Ia lebih dikenal masyarakat dengan nama panggilannya, Ir Dra Giwo Rubianto W, MPd daripada nama aslinya, Sri Woerjaningsih. Keseharian, ia menjadi Presiden Direktur dan Komisaris dari 6 perusahaan properti miliknya. Namun ia dikenal berkat kegiatannya dalam lebih kurang 18 organisasi soial dan profesional.

“Saya jadi sehat dan bahagia setelah giat di organisasi. Boleh dibilang, kegiatan beroganisasi yang telah menyelamatkan hidup saya,” ujar Giwo memulai kisah hidupnya untuk pembaca Kabari.

Lahir di Bandung, 8 Mei 1962 sebagai anak kedua dari 4 bersaudara.” Masa kecil, saya sangat bahagia dan berkecukupan. Orang tua, HR Wirjatmo dan Hj Tahjaningsih, mendidik kami dengan penuh kasih sayang. Ayah, mantan polisi dan sempat menjadi Direktur Utama Damri dan PPD, sedangkan Ibu sangat giat berorganisasi. Dari mereka berdua, saya mengambil nilai-nilai positif, lalu berpadu di dalam diri saya. Tanpa disadari, saya pun tumbuh menjadi anak yang gemar berorganisasi. Kebetulan orang tua dapat menunjang kegiatan saya di luar rumah”, kata Giwo.

“Di SMU 70, Bulungan, Jakarta Selatan, saya ikut Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Tidak cukup, saya juga terjun jadi peragawati dan foto model, lalu pada 1981 menjuarai lomba kecantikan dengan gelar sebagai Putri Ayu. Kegiatan berorganisasi terus berlanjut hingga ke bangku kuliah di Fakultas Pendidikan Teknologi dan Perguruan IKIP (sekarang, Universitas Negeri Jakarta—red), jurusan Tata Busana. Ketika tengah menyiapkan skripsi, saya ambil kuliah lagi di Fakultas Arsitektur Lansekap, Universitas Trisakti”, tambahnya

Usia 22 tahun Giwo dipersunting Ir Rubianto Wiyogo yang kemudian memberinya empat putra- Ato , Agi, Adito dan si bungsu Ardi. Meski telah menikah, ia tetap menuntaskan kuliahnya dan lulus pada 1985 dan 1989. Namun, setelah berkeluarga, kegiatan organisasi ditinggalkannya. Mengapa?

“Di pemikiran saya, saya takut sekali miskin. Takut tidak punya uang. Sementara saya tidak mau menerima atau bergantung pada pemberian orang , meski dari orang tua sendiri. Saya ingin mandiri, berdua Rubi (suami—Red). Di rumah saya menerima jahitan, juga mempekerjakan penjahit. Saya buat desainnya, lalu membuat baju dalam jumlah sedikit banyak untuk dijual. Saya bekerja 24 jam. Siang jadi malam, malam jadi siang. Bukan tidak percaya pada karyawan, tapi saya ingin memuaskan pelanggan dengan baju yang bagus dan rapi jahitannya. Saya juga berkutat di perusahaan saya sebagai konsultan dan kontraktor.

Di samping itu untuk bisa mendapatkan harga yang murah, saya belanja di pasar Inpres. Pukul 4 pagi saya sudah keluar rumah, sementara orang masih berselimut. Itu sengaja saya lakukan, karena harganya jauh lebih murah daripada beli di tukang sayur di depan rumah. Dari selisih uang itu lumayan untuk tambahan modal. Sesudah itu saya pulang, masak sendiri, pukul 7 pagi selesai, dan langsung bersiap-siap ke kampus. Begitu terus. Organisasi, saya tinggalkan sama sekali.

Apa yang terjadi? Sungguh di luar kesadaran saya. Tiba-tiba saya jatuh sakit yang berat sampai harus dirawat di rumah sakit. Saya masih ingat waktu itu tahun 1992. Saya sakit sakit tyfus, tapi kemudian menjalar menjadi penyakit liver dan hepatitis A. Kondisi kesehatan saya makin lama makin buruk dan lemah. Butuh waktu lama untuk sembuh.

Sekitar delapan bulan kemudian saya sembuh. Ibu mengajak saya ke Singapura. Saya berangkat segar bugar, pulangnya harus naik kursi roda, karena di sana saya sakit lagi. Bertambah buruk keadaan saya, sampai tidak bisa turun dari tempat tidur. Mandi pun membutuhkan pertolongan orang.

Suatu hari seorang ustad, teman orang tua kami, datang menjenguk. Katanya, saya diberi ujian penyakit itu untuk menyadari, bahwa hidup tidak boleh melulu mengejar kekayaan materi semata. Masih banyak hal penting yang harus dikejar dalam hidup ini, termasuk salah satunya memikirkan kehidupan orang lain. Banyak dari mereka yang hidup berkekurangan dan membutuhkan uluran tangan kita. Intinya, saya harus mengimbangi kegiatan mencari uang dengan kegiatan sosial, kalau ingin hidup berkah, sehat dan selamat”, katanya.

Singkat cerita, pada 1992 penyuka warna kuning ini mulai kembali ke kegiatan organisasi yang lama ditinggalkannya itu, bahkan sempat pula menjadi Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (IWAPI) pada 2004-2007. Tetapi penyuka kura-kura itu tetap menjalankan usaha, karena katanya,”Kita mesti mencari uang melalui usaha, dan sebagian dari hasilnya itu disalurkan ke organisasi sosial. Jadi tidak berkegiatan sosial untuk mencari uang.

Ternyata nasihat ustad tadi benar adanya. Setelah kembali berkegiatan sosial, jiwa saya lebih bahagia, dan tubuh juga menjadi sehat. Memang, melakukan kegiatan sosial itu harus datang dari hati, tulus dan ikhlas, maka mengerjakannya juga mendatangkan kenikmatan yang tidak bisa dibayar dengan uang. Apa yang dilakukan itu semata untuk menjaga hubungan harmonis kita dengan Sang Pencipta, juga jalinan hubungan kita dengan sesama.

 

Sejak itu saya mulai aktif lagi, kembali ke organisasi yang saya tinggalkan seperti di Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta, dan sekarang saya duduk sebagai Dewan Penasihat. Juga di Ikatan Arsitektur Lansekap Indonesia dan di KADEMA, yaitu Keluarga Alumni dan Eks Mahasiswa Arsitektur Lansekap Trisakti. Kemudian saya terjun di berbagai organisasi sosial. Sebagai anak pejuang, saya ikut di dalam organisasi wanita pejuang Wirawati Catur Panca dan kini dipercaya untuk duduk sebagai salah satu dewan pembinanya. Juga ikut dalam Paguyuban Wanita Pejuang (Wirawati Catur Panca).

Sementara itu seperti petuah orang tua, saya kembali ke dunia kampus untuk terus menuntut ilmu. Karena itu, saya mengambil pendidikan pasca sarjana di Universitas Negeri Jakarta pada jurusan managemen pendidikan, lulus tahun 2009, dan kini sedang menyusun disertasi untuk program doktoral (S3) di universitas dan jurusan yang sama. Saya bercita-cita, dengan bekal pengetahuan yang saya dapatkan ini, saya bisa memberdayakan masyarakat. Utamanya kaum perempuan dan anak-anak, yang sampai saat ini masih dalam kondisi yang mengenaskan.

Memang di satu sisi, sebagian telah mengecap kehidupan yang lebih baik, tetapi di masyarakat masih lebih banyak yang hidupnya susah. Mereka kerap jadi korban dari ketidaksetaraan gender maupun praktik pemahaman yang keliru di masyarakat. Kita lihat, perempuan tidak punya otoritas untuk memutuskan tindakan yang harus diambil bagi dirinya. Misalnya, terjadi suatu kondisi darurat pada kehamilannya, si ibu menunggu suaminya membuat keputusan, sehingga terlambat dan mengakibatkan nyawa si ibu atau bayinya tidak tertolong. Ini salah satu contoh yang membuat angka kematian ibu melahirkan.

Saya miris sekali melihatnya. Untuk menyelamatkan perempuan dari kondisi yang tidak menguntungkan, pikir saya, adalah memberdayakan kaum perempuan. Di antaranya, harus mandiri secara ekonomi, misalnya dipacu untuk berwirausaha. Sebagai Ketua Gerakan Wanita Sejahtera (GWS), saya bersama teman-teman membangun koperasi, dari sini kaum perempuan bisa memulai wirausaha. Program ini menyebar hingga ke pedesaan dan daerah pemekaran.

Kemudian, menanamkan nilai kemandirian pada diri perempuan agar mereka berani menentukan langkah untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Kami mengingatkan agar sifat-sifat yang menghambat kemajuan, seperti malas, pasif, ragu-ragu dan kurang percaya diri itu segera dibuang. Kami pun terus berkeliling, menyebarkan nilai-nilai yang positif dan membangun, sampai ke Bandung, Sukabumi, Kalimantan Selatan, Bogor, Tangerang Selatan, dan masih banyak lagi,” lanjutnya..

Kegiatan di organisasi sosial dan profesi lain yang mengisi hari-harinya adalah di Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Koperasi Wanita Indonesia (KOPWANI), Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Yayasan Pendidikan Wanita Indonesia (YPWI-ISWI), juga di Ikatan Sarjana Ilmu Kesejahteraan Keluarga Indonesia (ISIKKI-IHEA, Indoensai Home Economic Association).

“Kini saya juga masih terus aktif di Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI). Kita syukuri, APPI yang merupakan bagian dari Global White Ribbon Alliance (GWRA), sebuah organisasi dunia yang bergerak dalam perlindungan ibu. Di dunia setiap menit masih ada dua ibu yang meninggal, melalui masa nifas dan melahirkan. Sedangkan di Indonesia keadaannya lebih berat lagi, yakni setiap 30 menit.

Tak kalah pentingnya, menurut saya, adalah mendidik anak-anak, generasi penerus bangsa. Saya seringkali sedih melihat anak-anak yang tercampak, juga yatim piatu yang tidak memiliki apapun di dunia ini. Anak sesungguhnya seperti orang dewasa, mereka memiliki hak untuk diperlakukan secara baik dan juga hak untuk mendapatkan perlindungan. Tetapi masih sering kita temukan anak yang menjadi korban kekerasan orang tua, atau dibuang sia-sia dan tidak dipenuhi haknya.

Saya bersyukur kepada Tuhan, akhirnya saya mendapat petunjuk melalui ustad tadi, bahwa dalam hidup harus seimbang. Tidak diperbudak oleh materi, meski dalam hidup, kita membutuhkan uang. Tetapi kita juga harus memiliki kepedulian kepada sesama.

Hikmah ini saya tularkan kepada anak-anak, misalnya saat mengunjungi anak-anak di penjara, saya ajak anak-anak saya. Saya katakan kepada mereka, bahwa kalian beruntung memiliki orang tua yang menyayangi kalian. Sementara mereka tidak punya siapa-siapa sehingga akhirnya terjerumus di balik jeruji besi. Selain itu saya juga bisa memberi pemahaman kepada anak-anak, bahwa dalam hidup ini harus mengikuti hukum dan ketentuan yang berlaku. Dengan tunduk pada aturan, kalian akan selamat”, kata Giwo mengakhiri kisahnya.. (1004)

sumber: kabarinews

Last modified on Minggu, 11 Agustus 2019
More in this category: Merajut Asa »

Leave a comment