Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi. Angka kematian erat kaitanya dengan kehamilan, persalinan, dan nifas. Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan lima organisasi wanita lainnya telah menyusun buku pedoman bagi perempuan Indonesia. “Buku tersebut sebagai acuan dalam advokasi untuk penurunan AKI, memberikan kontribusi, pada peningkatkan kesadaran agar tahu, mau, dan mampu berperan serta dalam kesehatan reproduksi (kespro),” jelas Ketua Umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo saat di temui di Kantor Kowani, jalan Imam Bonjol 58, Menteng, Jakarta (11/03/2016). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI tercatat 359 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara target AKI di tahun 2015 tercatat 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup artinya masih jauh dari target harus dicapai. AKI sebesar 359 ini, 82 persennya terjadi pada persalinan ibu berusia muda, 14-20 tahun.  Penyebab kematian ibu. Menurut laporan rutin Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) tahun 2007, penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (39%), keracunan kehamilan (20%), infeksi (7%) dan lain-lain (33%). Kondisi tersebut ditunjang pula dengan keadaan sosial ekonomi sebagian masyarakat yang masih berada digaris kemiskinan, fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang belum tersebar secara merata tenaga kesehatan di seluruh wilayah Indonesia. Untuk dapat menurunkan AKI dilakukan program-program dengan berbagai terobosan. Mulai dari mendewasakan usia pernikahan dini atau menunda kehamilan pertama sampai usia ibu minimal 18 tahun. Sejarah telah mencatat bahwa Kowani adalah organisasi wanita terbesar yang mempunyai anggota 52 juta wanita yang tersebar di seluruh Indonesia. Kowani kini sebagai organisasi ter sistem “Grass root” yakni akar rumput saling sinergi bekerja sama bahu membahu dengan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) di seluruh tingkat provinsi di Indonesia. “Kowani bisa dibilang corong, agen, pelopor, dan motor penggerak untuk menekan dan menurunkan AKI,” harap mantan Waketum Perempuan Partai Golkar ini. Kowani secara otomatis peduli terhadap perlindungan hak wanita dan anak, perwujudtanya dilaksanakan secara bersama bersinergi dengan BKOW. “Hasil Kongres Kowani yang menyatakan bahwa Kowani berfokus antara lain pada bidang Kesehatan. Yakni, pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta penurunan angka kematian ibu dan bayi,” tutur Giwo. Sebagai lembaga strategis yang mampu menurunkan angka kematian Ibu Indonesia, langkah yang di tempuh Kowani, “Kowani membangun jejaring kemitraan dengan semua pihak, baik pemerintah dan lainnya. Kowani bertindak sebagai katalisator di organisasinya dan di masyarakat sekitarnya pada umumnya dan Kowani membangun budaya proaktif sehingga kondusif untuk kespro.” papar Giwo Giwo berharap tidak ada lagi kasus-kasus kematian ibu di Indonesia, "Untuk membuat suasana yang kondusif dimana ibu hamil sampai melahirkan aman, tidak ada lagi terjadi kasus-kasus kematian, karena seorang ibu membawa kehidupan di dunia," tandas Giwo mengakhiri penjelasanya. (Yul Adriansyah)

Last modified on Selasa, 13 Agustus 2019

Leave a comment